Sunday, September 16, 2018

Narkoba Menghantui Generasi Muda


Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum di negeri ini. Menurut data yang diterima oleh Badan Narkotika Nasional (BNN), jumlah korban yang disebabkan oleh barang haram itu meningkat hingga dua kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya. Kebanyakan dari korban-korban tersebut adalah remaja. Menanggapi fenomena ini pemerintah telah menetapkan Negara kita sedang berada dalam keadaan darurat narkoba.

Alasan yang pertama adalah narkoba bisa menghancurkan masa depan anak muda. Anak-anak muda yang semestinya menjadi calon-calon penerus bangsa akan hancur masa depannya jika masuk ke dalam lingkaran narkoba. Jangankan menjadi masa depan bangsa, masa depan mereka sendiri pun akan rusak akibat dari barang haram ini. Hal ini dikarenakan narkoba akan menciptakan generasi- generasi yang ketergantungan pada barang tersebut , yaitu generasi yang tidak bisa lepas dari narkoba.

Alasan yang ke dua adalah narkoba bisa mematikan kreatifitas anak bangsa. Anak muda semestinya memiliki daya kreatifitas yang tinggi. Di masa-masa inilah mereka bisa menemukan pemikiran-pemikiran baru, menemukan inovasi dan berprestasi. Namun, apa yang terjadi ketika mereka masuk ke dalam jurang narkoba ? Mereka akan kehilangan itu semua. Narkoba ini perlahan-lahan akan mematikan sel-sel otak mereka sehingga lama kelamaan otak mereka tidak mampu lagi berkreasi dan yang ada di dalamnya hanyalah narkoba. Jika otak mereka sudah terkontaminasi oleh narkoba, maka tidak ada lagi kreatifitas yang tersisa.

Alasan yang terakhir adalah narkoba menciptakan generasi kriminal. Para remaja yang sudah terjerat ke dalam lingkaran setan ini akan terus-menerus dipaksa untuk memenuhi keinginan mereka terhadap narkoba. Akibatnya, mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan barang haram itu, termasuk dengan perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum, seperti mencuri, merampok, menipu dan membunuh dengan keji. Semua yang dilakukan itu tidak lain dan tidak bukan karena narkoba yang telah merusak otak dan jiwa mereka.

Terdapat suatu kenyataan yang sulit dipercaya , bahwa hampir semua pengguna Narkoba mengetahui bahaya dari Narkoba, namun hanya sedikit yang bersedia dan berhasil untuk menghentikan kebiasaannya tersebut. Ancaman penyakit yang mengintai terkadang tidak cukup ampuh untuk membuat pacandu menghentikan kebiasaannya

Narkoba di satu sisi merupakan suatu yang dibenci dan dicoba untuk dihindari , namun disatu sisi yang lain dianggap sebagai sahabat setia yang terus dicari dan dijadikan sebagai salah satu alat pergaulan. Narkoba dipandang sebagai masalah yang paling mendesak untuk ditangani dan dikurangi , karena mengandung pelbagai senyawa beracun dan bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan keganasan).

Para ahli terus melakukan penelitian untuk mencari jawaban atas pertanyaan penyebab dari kebiasaan mecandu pada tiap tahapan usia. Berbeda dengan kebiasaan mecandu yang dilakukan oleh remaja yang lebih karena usahanya dalam mencari jati diri atau tekanan dari kelompok sebaya maka kebiasaan menggunakan putauw pada usia dewasa selain sebagai akibat kebiasaan merokok yang dilakukan semenjak usia remaja juga merupakan usaha untuk melarikan diri dari perasaan frustrasi dan depresi sebagai akibat dari lingkungan kompetitif yang dihadapinya.

Fenomena penyalahgunaan zat mempunyai banyak implikasi untuk penelitian. Dikatakan bahwa beberapa zat dapat mempengaruhi perilaku baik internal , misalnya :mood ataupun eksternal yaitu perilaku yang dapat diamati oleh orang lain. Dalam hal ini dikatakan bahwa penggunaan psikotropika, termasuk putauw dengan kerusakan fungsi otak adalah berhubungan erat.

Dalam hal ini , penanganan yang lebih serius untuk mencegah semakin luasnya penyebaran narkoba perlu dilakukan secepatnya agar efek merusak pada kalangan remaja dapat dicegah sedini mungkin mengingat bahwa biaya yang digunakan untuk melakukan rehabilitasi narkoba telah mencapai 200 milyar dolar pada tahun 1990-an di Amerika saja, belum termasuk di belahan lain di dunia , jauh lebih besar dibandingkan pemasukan devisa bagi sebagian besar negara di dunia .

Pemerintah melalui berbagai instansi, telah mencoba untuk mencegah dan membasmi peredaran narkoba di Indonesia. Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan hingga 2014 sebanyak 68 terpidana kasus narkoba baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri divonis mati oleh pengadilan. Lebih lanjut, “pada tahun 2012 lalu dua terpidana mati kasus narkotika ini sudah dieksekusi dan sisanya menunggu eksekusi,”. Kebijakan pemerintah dianggap sudah sangat tepat di dalam mencegah menyebarnya virus pengunaan narkoba dikalangan remaja.

Oleh karena itu, narkoba sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup bangsa ini. Hal ini dikarenakan barang haram ini bisa menghancurkan masa depan para pemuda, calon penerus bangsa, narkoba bisa menghancurkan daya kreatifitas para remaja, dan yang terakhir barang haram ini bisa menciptakan generasi pelanggar hukum. Semua akibat itu akan menuntun pada kehancuran bangsa ini. Maka dari itu, jika pemerintah tidak melakukan tindakan yang nyata untuk menghentikan peredaran barang haram ini, maka bisa dipastikan Negara ini akan hancur dalam beberapa tahun ke depan.

Sumber: 
https://geotimes.co.id/opini/narkoba-menghantui-generasi-muda/
Share:

NARKOBA DAN GENERASI MUDA



Narkoba adalah singkatan dari Narkotika dan Obat Bahan berbahaya. Narkoba telah beredar dimasyarakat perkotaan maupun di masyarakat pedesaan, terutama di kalangan para remaja atau generasi muda. Selain Narkoba adapula istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan RI yaitu NAPZA, NAPZA itu sendiri merupakan singkatan dari Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya. Zat Adiktik merupakan sekelompok zat yang berbahaya dan mempunyai efek bagi para penggunanya berupa kecanduan/ketagihan untuk kemudian mencobanya kembali.

Narkoba ataupun NAPZA merupakan zat yang apabila masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi tubuh, terutama susunan syaraf sehingga apabila obat-obatan tersebut di konsumsi maka akan menyebabkan gangguan fisik, jiwa dan gangguan dalam kehidupan sosialnya. Oleh karena itu, agama sangat melarang keras terhadap penggunaan zat-zat berbahaya tersebut. Selain agama, Pemerintah juga melarang keras beredarnya Narkoba ataupun NAPZA. Karena Narkoba sangat erat kaitannya dengan para remaja atau generasi muda yang seharusnya menjadi penerus perjuangan bangsa malah di khawatirkan akan rusak oleh adanya Narkoba tersebut sehingga Pemerintah sangat melarang beredarnya zat-zat tersebut. Mengapa NAPZA dikategorikan sebagai zat berbahaya ?

Pertama Narkotika, Narkotika adalah zat yang berasal dari tanaman atau buatan yang apabila dikonsumsi tidak sesuai dengan prosedur akan menyebabkan perubahan kesadaran, mengurangi bahkan sampai menghilangkan rasa sakit, dan dapat menimbulkan ketergantungan bagi para penggunanya. Jenis Narkotika yang sering disalahgunakan adalah morfin, heroin, ganja, mariyuana, dan kokain. Kedua Psikotropika, Psikotropika adalah zat alami maupun sintetis yang berdampak aktif terhadap kejiwaan karena pengaruhnya langsung di susunan syaraf pusat, sehingga dapat menimbulkan gangguan kejiwaan bagi para penggunanya. Psikotropika yang sering disalahgunakan adalah amfetamin, ekstasi, shabu, dan obat penenang.

Sedangkan Zat adiktif lainnya disini adalah zat yang bukan merupakan jenis dari Narkotika dan Psikotropika. Zat adiktif lainnya seperti alkohol, metanol, tembakau, gas yang dihirup maupun zat pelarut. Begitu banyak zat-zat berbahaya seperti yang telah disebutkan diatas yang telah beredar saat ini dan menjadi trend baru dikalangan para remaja. Padahal begitu banyak dampak negatif yang ditimbulkannya, contoh kecilnya saja seorang siswa yang diberi uang oleh orang tuanya untuk membayar SPP karena dia telah ketergantungan dengan Narkoba maka uang yang seharusnya dibayarkan untuk membayar SPP justru disalahgunakannya untuk membeli zat terlarang tersebut.

Ada banyak faktor yang melatarbelakangi pemakain narkoba di kalangan remaja ini. Pertama, hilangnya makna hidup. Mereka ingin selalu dianggap eksis ditengah pergaulan, sehingga mereka seringkali mengikuti trend-trend yang sedang berkembang di lingkungan tempat mereka bergaul. Mereka cenderung lebih takut terisolasi dari lingkungan pergaulannya jika mereka tetap berpegang teguh pada aturan-aturan yang benar. Kedua, minimnya komunikasi dalam keluarga maupun di tengah-tengah masyarakat sekitar. Dampak negatif dari hubungan antar manusia yang tidak harmonis akan dapat melahirkan rasa kesepian meskipun berada di tengah keramaian karena dalam interaksi sosialnya kurang harmonis. Apabila hal itu dibiarkan berlarut-larut akan berdampak buruk bagi perkembangan mental dan jiwa mereka. Dalam kondisi yang demikian, siapapun akan rentan untuk terjerumus ke dalam perilaku negatif. Ketiga, munculnya rasa kebosanan dalam menjalani hidup yang cenderung terus monoton. Pada akhirnya rasa bosan ini membawa mereka lari dari kenyataan hidup yang dihadapinya agar tidak lagi merasa bosan.

Setelah mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi seorang remaja terjerumus pada pemakaian Narkoba, diharapkan diri kita sendiri tidak ikut larut dalam trend pergaulan yang dapat menyesatkan itu. Dan bagi para remaja yang sudah terjerumus ke dalam dunia Narkoba, diharapkan dapat kembali sadar akan arti pentingnya dari kehidupan ini, tanpa harus menodainya atau menggadaikannya dengan kesenangan-kesenangan sesaat yang menyesatkan tersebut. Maka dari itu, janganlah kita mendekati narkoba di saat keadaan mendesak sekalipun karena akan menyebabkan kita kecanduan dan terjerumus dalam dunia narkoba yang menyesatkan. Marilah kita bersama-sama merangkul teman-teman kita yang sudah terlanjur masuk dan terjerumus dalam lingkaran narkoba agar dapat bangkit keluar dari jerat narkoba yang menyesatkan.

Sumber:
http://siskaaprilia59.blogspot.com/2013/12/essay-narkoba-dan-generasi-penerus.html
Share:

Penyalahgunaan Narkoba oleh Generasi Muda Penerus Bangsa



Salah satu masalah di Indonesia yang hangat untuk diperbincangkan seputar kehidupan para remaja adalah narkoba. Siapa yang tidak mengenal narkoba? Benda yang mematikan. Banyak cara untuk menggunakannya. Bisa dihisap, disuntik, atau diminum. Cara mendapatkannya sangat mudah, karena sudah tersebar di seluruh dunia dan banyak para oknum yang menjualnya. Korban narkoba tidak memandang kalangan dan usia. Apabila sudah sekali mencoba, maka tubuh akan bereaksi oleh efek candu. Mengapa hal itu bisa terjadi? Perlu kita ketahui, bahwa narkoba mengandung zat adiktif yang fungsinya adalah sebagai candu, sama halnya seperti rokok. Perokok aktif sangat berpotensi untuk mengonsumsi narkoba, oleh sebab itu rokok dan narkoba mempunyai keterkaitan. Sangat disayangkan apabila remaja penerus bangsa mengonsumsi dua hal tersebut, terutama narkoba yang efeknya sangat dahsyat dan dapat menyebabkan kematian. 


Sebenarnya, narkoba adalah obat yang digunakan oleh para dokter untuk membius pasien dan juga sebagai obat penenang dengan dosis yang sudah ditentukan. Jika digunakan dengan dosis yang tidak semestinya, maka akan mengganggu sistem syaraf pusat yaitu otak, fisik, psikis atau jiwa, dan fungsi sosial. Akibatnya, pemakai akan mengalami efek seperti berikut: Halusinogen, yaitu efek narkoba yang membuat pemakai merasakan halusinasi yang tinggi. Melihat suatu hal atau benda yang sebenarnya tidak nyata. Stimulan, yaitu efek narkoba yang mengakibatkan kerja organ tubuh seperti jantung dan otak menjadi lebih cepat dari biasanya. Depresan, yaitu efek narkoba yang menekan sistem syaraf pusat dan mengurangi fungsional tubuh, sehingga pemakai merasa tenang bahkan tertidur dan tidak sadarkan diri.Adiktif, yaitu efek narkoba yang menimbulkan rasa candu (keinginan mengonsumsi secara terus-menerus). Namun, hal itu tidak menjadi halangan bagi para pemakai untuk mengonsumsi barang haram tersebut, Para pemakai narkoba khususnya remaja menganggap narkoba adalah penyelamat hidup mereka. Mereka mencari kesenangan dari peliknya hidup dengan cara yang salah. Miris memang, mengingat remaja yang menjadi penerus bangsa, justru merusak masa depan dan harapan bangsa. 

Banyak faktor yang mempengaruhi para remaja untuk mengonsumsi barang haram tersebut. Mulai dari coba-coba, kurang perhatian orangtua, lingkungan yang buruk, dan pengaruh teman sebaya. Mula-mula, kurangnya perhatian dari orangtua maupun keluarga yang tidak harmonis, membuat remaja mencari kesenangannya sendiri di dunia luar. Di lingkungan yang buruk, remaja terjebak kemudian berteman dengan teman sebaya dan mulai terseret oleh arus pergaulan bebas. Remaja pun mempunyai teman sebaya yang dianggap mempunyai nasib yang sama. Mereka menjelajah mencari jati diri dan keluar dari kehidupan yang memuakkan dan membuat dunianya sendiri. Kemudian, bertemu dengan orang yang menawarkan benda asing, yaitu narkoba. Karena merasa penasaran, mereka mulai mencobanya dan hanyut oleh candu narkoba yang semakin membawa mereka ke jalan yang menyesatkan. Semakin tersesat dan menghalalkan segala cara agar dapat menikmati narkoba. 

Mereka tidak dapat berfikir dengan jernih, tidak dapat membedakan mana yang benar dan yang salah. Otak mereka telah diracuni, mata hati mereka telah di butakan oleh satu hal, yaitu nakoba. Mulai saat itu mereka menjadi orang lain dan kehilangan jati diri. Bahkan mereka tidak lagi mengingat Tuhan. Dunia mereka hanyalah satu, yaitu narkoba. Seakan narkoba adalah harga mati. Sangat banyak dampak yang akan di timbulkan oleh narkoba, apabila hal tersebut telah merasuki kita. Contohnya, remaja akan terjerumus pergaulan bebas, seks bebas, dan minuman keras. 

Sebagian besar orang beranggapan bahwa bagi mereka yang telah mengonsumsi narkoba secara berlebihan akan beresiko kematian, karena zat-zat yang terkandung dalam narkotika dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh, hal inilah yang memungkinkan pemakai narkoba dapat terserang penyakit AIDS yang disebabkan oleh virus HIV. Virus HIV menular melalui pemakaian jarum suntik yang tidak steril. Kebiasaan pemakai narkoba yaitu memakai jarum suntik narkoba secara bersama-sama. Hal tersebut juga diakibatkan oleh perilaku seks bebas, zat-zat yang terkandung dalam narkotika dapat meningkatkan hasrat naluri penggunanya. Sehingga pengguna narkoba tidak segan melakukan seks bebas. Tidak sedikit orang beranggapan bahwa para pemakai narkoba dapat bertindak nekat. Mereka (para pemakai) terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, sehingga bersikap acuh dengan lingkungan di sekitarnya. Adapun yang beranggapan bahwa pemakai narkoba sering lepas kontrol dan tidak sabar ketika melakukan sesuatu. Hal ini tidak hanya dapat mencelakakan diri sendiri, tapi juga orang lain. 

Hingga saat ini, penyebaran narkoba tidak dapat di cegah. Narkoba sudah tersebar di berbagai tempat di tangan oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Misalnya saja, penjual narkoba yang mencari mangsa di sekolah, diskotik, tempat pelacuran dan tempat-tempat perkumpulan anak muda. Para penjual narkoba terus menjamur tanpa kita ketahui, mereka melakukan penyamaran dan menyembunyikan identitas asli mereka dengan sangat rapi. 

Pengguna narkoba mempunyai ciri fisik maupun tingkah laku yang berbeda dengan orang yang bebas dari narkoba. Pengguna narkoba bisa dilihat dari wajahnya yang selalu lesu, mata merah, mulut kering, bibir berwarna merah kecoklatan, berperilaku aneh, terlihat sangat bahagia (euforia) dan santai. Cara berbicara pun tidak terarah dan daya ingatnya menurun. Adapun ciri umum anak pengguna narkoba antara lain: anak menjadi pemurung dan penyendiri, cenderung menarik diri dari acara keluarga dan lebih memilih mengurung diri di kamar, bergaul dengan teman hingga larut malam bahkan jarang pulang ke rumah. Sering bersenang-senang di pesta maupun diskotik, mudah tersinggung, egois, cenderung malas mengerjakan tugas-tugas dari sekolah. Prestasi belajar menurun, sering terlambat bahkan bolos sekolah. 

Narkoba bukan masalah yang mudah yang dapat diselesaikan secara individu, namun masalah bersama yang perlu dipikirkan oleh seluruh bangsa, demi masa depan yang suatu Negara. Lalu apa upaya pencegahan untuk memperkecil kemungkinan kasus narkoba yang terjadi pada usia remaja? 

Sudah sepantasnya peran orangtua, keluarga dan lingkungan sekitar menjadi hal yang paling penting dalam mempengaruhi psikis remaja. Seorang anak sangatlah membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari orangtuanya. Karena itu, kasih sayang dan perhatian orang tua benar-benar berpengaruh dalam pembentukan pribadi seorang remaja. Ciptakan suasana harmonis, intim, dan hangat dalam keluarga. Berikan perhatian yang cukup baik dari segi materil, emosional, intelektual, dan sosial. Berikan nasihat, pencerahan, dan ajaran agama yang baik untuk anak. Pahamilah dengan baik bagaimana perasaan dan gejolak remaja. Mendukung segala kegiatan remaja, selama kegiatan tersebut mempunyai pengaruh positif. Adapun upaya pencegahan untuk kalangan remaja sendiri yaitu, meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, hindarilah kebiasaan merokok dan minum-minuman keras, hati-hati dalam memilih teman dalam bergaul. Isi waktu luang dengan kegiatan-kegiatan positif, tingkatkan prestasi serta bakat untuk mewujudkan cita-cita. 

Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, itulah kata pepatah. kenyataannya memang benar. Narkoba adalah masalah bersama, sehingga tidak dapat di selesaikan dengan hanya sepihak saja. Sebagai negara kesatuan, kita harus menyelamatkan masa depan bangsa dan negara kita. Tentunya dengan menghadapi masalah yang satu ini. Selain melakukan upaya pencegahan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kita juga dapat melakukan beberapa cara, contohnya melakukan penyuluhan anti narkoba ke sekolah-sekolah, merangkul pemakai narkoba dan mencoba dengan perlahan memberikan nasihat agar mengikuti rehabilitasi, memberikan motivasi agar pemakai mau mengubah pola pikirnya supaya kembali ke jalan yang benar. Hanya Tuhanlah yang mampu mengetuk pintu hati setiap umat-Nya. Maka dari itu, tingkatkan keimanan dengan mengikuti acara keagamaan, kemungkinan besar dapat menyadarkan pemakai narkoba untuk meninggalkan lubang kesesatan. 

Manusia adalah tempat segala kesalahan dan kekhilafan. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan satu-satunya tempat untuk kembali hanyalah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Pada masalah ini, tak sepatutnya para remaja yang disalahkan. Mari kita sama-sama instropeksi diri dan tidak menyudutkan salah satu pihak. Ibaratkan tidak ada asap jika tidak ada api yang artinya setiap masalah pasti ada penyebabnya. Untuk para generasi muda penerus bangsa, kuatkanlah hati dan perteguh iman serta isilah waktu kalian dengan hal-hal positif. Jangan jadikan masa muda kalian terbuang sia-sia. Hidup hanyalah satu kali. Wujudkanlah semua cita-cita. Tunjukkanlah pada dunia bahwa kalian bisa!

Sumber:
http://novitadreamland.blogspot.com/2013/10/karangan-essay-penyalahgunaan-narkoba.html
Share:

Generasi Muda Anti Narkoba Sebagai Modal Utama Pembangunan Bangsa

“Beri aku seribu orang tua, maka akan ku cabut Semeru dari akarnya, Beri aku sepuluh pemuda maka akan kuguncankan dunia.” 

Itulah ungkapan Bung Karno yang menggambarkan betapa pentingnya peran pemuda hingga bisa “mengguncang dunia”. Berdasarkan Proyeksi Badan Pusat Statistik pada tahun 2015 jumlah pemuda di Indonesia mencapai 62,4 Juta orang atau sekitar 25% dari proporsi jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan. Tentu bonus demografi tersebut harus bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengisi kemerdekaan dan membangun bangsa Indonesia menjadi lebih baik. 

Mengisi kemerdekaan dengan bekerja dan hal positif lainnya tentu adalah kewajiban kita sebagai generasi penerus. Lakukan apa saja, hal-hal yang baik untuk membangun Indonesia ke arah yang lebih baik. Setiap orang sebenarnya bisa mengisi kemerdekaan sesuai dengan porsinya sendiri. Karena setiap orang dilahirkan dengan kelebihan dan keunikannya masing-masing dan itu adalah sumber manfaat kebaikan yang bisa disebarkan kepada semua orang. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat baik bagi orang lain? 

Presiden RI pertama pernah berkata : “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Kata-kata dari Ir. Soekarno tersebut, kini perlahan-lahan mulai terbukti. Sebut saja kasus korupsi yang belum habis-habisnya diungkap oleh aparat penegak hukum, sampai berita tentang narkoba yang hampir setiap hari beritanya muncul di media-media massa. Kata-kata Bung Karno tentang perjuangan kita ‘melawan’ bangsa kita sendiri ternyata bukan isapan jempol belaka. Untuk masalah narkoba khususnya, prevalensi penyalahguna narkoba di Indonesia sudah mencapai di kisaran angka 4,2 Juta – 5 Juta orang dan kerugian material ditaksir mencapai 63 triliun Rupiah. Bisakah kita bayangkan uang sebesar itu digunakan untuk pembangunan dan kemaslahatan masyarakat? 

Masalah narkoba sudah menjadi momok yang merongrong Indonesia dari dalam. Narkoba tidak mengenal status dan golongan, ia menyerang semua kalangan, dari mulai oknum Profesor yang intelek, pengangguran, oknum karyawan, oknum Pegawai Negeri, Oknum aparat bahkan sampai oknum Kepala Daerah yang baru beberapa waktu yang lalu diamankan BNN ketika sedang pesta narkoba di rumahnya. Masalah narkoba adalah masalah yang amat serius dan harus ditangani dengan serius. Bisakah kita bayangkan, para pemuda yang harusnya menjadi tulang punggung negara dengan segala kerja dan karyanya, malah terjerumus dalam jurang nista penyalahgunaan narkoba? Bisakah kita bayangkan, para Pemuda yang seharusnya mengisi kemerdekaan dengan kerja keras untuk membangun Indonesia, malah tergeletak tak berdaya, overdosis dengan jarum yang masih menempel di tangan mereka, atau bong yang masih menempel di hidung mereka. Darah dan pengorbanan para Pahlawan sama sekali bukan untuk ditukar dengan hal-hal yang tidak berguna seperti itu. Penyalahgunaan narkoba adalah proses penghancuran bangsa secara laten dan manifest yang akan membuat suatu keadaan yang disebut “Lost Generation” dimana para pemuda dan masyarakat menjadi tidak produktif dan rusak secara mental maupun fisik. 

Penyalahgunaan narkoba melahirkan masalah-masalah yang kompleks dan multidimensional yang akan menuntun ke gerbang kehancuran. Maka dari itu, kita harus bersama-sama menyelamatkan Bangsa Indonesia dari kemungkinan buruk tersebut. Karena untuk mencegah dan memberantas narkoba butuh kolaborasi dan koordinasi yang baik dari Pemerintah, khususnya BNN sebagai leading sector serta instansi terkait seperti POLRI, TNI, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial juga tentu dibutuhkan peran aktif masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkoba. 

Menggapai cita-cita Bangsa tentu bukan masalah mudah, tapi setidaknya mari kita mulai dengan hal-hal kecil yang bisa kita lakukan. Salah satunya adalah dengan tidak menggunakan narkoba, dan senantiasa peduli dan mengawasi keluarga dan lingkungan kita untuk selalu menjauhi narkoba. Jika kita sehat secara jasmani dan rohani, maka kita bisa bekerja dan berkarya demi kemajuan Indonesia. Jika keluarga dan masyarakat sekitar kita sehat dan produktif, maka tentu akan bisa membangun peradaban masyarakat yang madani dan sejahtera. Jika seluruh masyarakat di Indonesia sehat dan produktif, maka kita tentu akan menjelma menjadi bangsa yang hebat dan disegani. Dengan begitu, dengan perlahan cita-cita Bangsa bisa kita wujudkan bersama. 

Oleh karena itu marilah kita sebagai generasi penerus, membangun Indonesia dengan tenaga, pikiran dan karya yang kita punya. Menjadi generasi yang sehat, kreatif dan membanggakan. Menghargai apa yang telah diperjuangkan oleh Para pahlawan demi kelangsungan hidup kita sekarang. Membangun Indonesia menjadi lebih baik dari apapun dan siapapun kita. #stopnarkoba 

Oleh: 
Achmad Abdul Aziz
Sumber: http://indonesiabergegas.bnn.go.id/index.php/en/artikel/17-artikel/1055-generasi-muda-anti-narkoba-sebagai-modal-utama-pembangunan-bangsa
Share:

Sunday, September 2, 2018

Hakim salah kaprah, kok lama banget benernya


DR Anang Iskandar, SIK, SH, MH.
Ka BNN 2012 - 2015
Kabareskrim 2015 - 2016
Dosen Universitas Trisakti

Hakim wajib memvonis rehabilitasi dan kewajiban penegak hukum untuk menempatkan kedalam lembaga rehabilitasi selama proses pemeriksaan serta kewajiban orang tua yang keluarganya terlibat menjadi penyalah guna narkotika untuk merehabilitasi. Kewajiban hakim, penegak hukum dan orang tua ini adalah perintah undang undang, pemahaman yg tidak jernih terhadap tersangka atau terdakwa penyalah guna narkotika untuk pemakaian sehari (dibawah 1 gram untuk sabu) dan digunakan untuk diri sendiri menjadi penyebab para penyalah guna ini tidak pulih / sembuh bahkan menjadi lebih parah apabila ditahan dan vonis penjara. Sedangkan tujuan UU narkotika wajib ditempatkan dilembaga rehabilitasi dan wajib divonis rehabilitasi supaya sembuh / pulih dan dengan maksud agar tidak menjadi penyalah guna lagi.

Penegak hukum wajib menggunakan upaya paksa berupa penempatan kelembaga rehabilitasi (pasal 13 PP 25/2011) dan hakim wajib menjatuhkan sangsi rehabilitasi sesuai pasal 103/1 apabila amar putusannya terbukti sah dan menyakinkan terdakwa sebagai penyalah guna bagi diri sendiri agar orang tua dan masarakat punya keberanian untuk menyembuhkan penyakit adiksi yang diderita keluarganya.

Banyak masarakat yang tidak mendapatkan sosialisasi bahwa penyalah guna itu adalah orang sakit (pasal 1/1) berpotensi ketergantungan / kecanduan narkotika yang disebut pecandu. Penyakit ini tidak mungkin sembuh tanpa direhab. Secara medis penyalah guna itu kurang lebih 99% adalah pecandu sedang yang 1% korban penyalahgunaan narkotika. Spektrum penyalah guna narkotika mulai korban penyalahgunaan narkotika, penyalah guna narkotika dan pecandu. Sedangkan pecandu terdiri dari pecandu ringan, pecandu sedang dan berat. Semua penyalah guna ini diancam dengan pidana tapi dijamin UU ditempatkan dilembaga rehab dan di vonis rehabilitasi bila berhubungan dengan penegakan hukum.

Secara hukum penyalah guna itu 100% dipastikan sebagai pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika bila dimintakan visum / assesmen kepada dokter ahli atau team assesmen (pasal 1/13).
Oleh karena itu visum / keterangan dokter ahli atau team assesmen menjadi sangat sangat penting untuk mengkontruksi penyalah guna yang dijamin rehabilitasi (pasal 4d) menjadi pecandu yang bersifat wajib direhabilitasi berdasarkan pasal 54 UU narkotika. 

Hal tersebut penting karena penyalah guna itu diancam dengan pidana maksimal 4 tahun dijamin UU untuk direhabilitasi, sedangkan kalau sudah jadi pecandu wajib direhabilitasi. 
Kenapa visum / keterangan ahli atau team assesmen penting karena penyidik, penuntut umum dan hakim diberi tugas menjamin penyalah guna direhabilitasi (read; tujuan UU adalah menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial bagi penyalah guna dan pecandu sesuai pasal 4d). 
Semangat ini yang belum dimiliki oleh hakim dan penegak hukum lainnya sehingga penyalah guna di tahan dan divonis penjara.

Penyalah guna narkotika berdasarkan UU narkotika ibarat orang berdiri pada dua kaki, satu kaki berada pada dimensi kesehatan, kaki lainnya pada dimensi hukum. Pada dimensi kesehatan, penyalah guna itu orang sakit kronis bersifat nyandu, harus disembuhkan melalui rehabilitasi sedangkan pada dimensi hukum, penyalah guna itu adalah kriminal yang harus dihukum karena melanggar ketentuan perundang undangan yang berlaku. Oleh karena itu  terhadap perkara penyalah guna oleh UU narkotika kita memberi solusi dengan mengintegrasikan dua pendekatan tersebut melalui hukuman rehabilitasi. 
Hukuman rehabilitasi ini bersifat wajib.

Hukuman rehabilitasi ini maknanya sama dengan hukuman penjara, masa menjalani rehabilitasi dihitung sebagai masa menjalani hukuman (pasal 103/2) hukuman rehabilitasi ini telah memperhitungkan kepastian hukum, rasa keadilan dan kemanfaatannya. Kemanfaatan ini lah yang menjadi tujuan penghukuman kenapa penyalah guna, pecandu dan korban penyalah guna wajib dihukum rehabilitasi baik terbukti salah maupun tidak terbukti salah dipengadilan (pasal 103/1)

Eksekusi hukuman rehabilitasi bisa menggunakan model keputusan hakim terhadap perkara Rhido Rhoma, Tessy dan terakhir Tio Pakusadewo. Melalui keputusan hakim terdakwa harus dipaksa untuk direhabilitasi dengan menunjuk rumah sakit ketergantungan obat  atau lembaga rehabilitasi yang ada di republik ini.

Kementrian kesehatan sebagai pengemban fungsi rehabilitasi medis terhadap penyalah guna narkotika sangat mudah merealisasi program rehabilitasi secara serempak untuk menyembuhkan para penyalah guna tersebut karena Indonesia punya ratusan rumah sakit yang tergelar diseluruh indonesia yang dapat disulap untuk membuka layanan rehabilitasi layaknya rumah sakit ketergantungan obat selanjutnya tinggal mengintegrasikan layanan rehabilitasi yang digawangi kemensos dan BNN . 

Karena praktek penegakan hukum selama ini terhadap penyalah guna tidak ditempatkan di lembaga rehabilitasi melainkan ditahan / dipenjara maka fungsi layanan rehabilitasi dirumah sakit menjadi tidak berkembang, demikian pula fungsi lembaga rehabilitasi yang dimiliki kemensos dan BNN, dampaknya orang tua maupun penyalah guna nya sendiri "takut" berobat untuk mendapatkan hak sembuh karena secara empiris penyalah guna dikejar dan diperlakukan seperti layaknya pengedar padahal mereka adalah seorang sakit ketergantungan narkotika yang seharusnya menurut UU narkotika harus dipaksa dulu oleh keluarga kemudian penegak hukum untuk direhabilitasi sehingga beban negara berkurang.

Maksud dan tujuan undang undang, terhadap orang sakit yang diancam hukuman penjara ini agar di cegah supaya tidak yang ada yang menjadi penyalah guna narkotika, dilindungi supaya tidak menjadi lebih parah kecanduannya, diselamatkan agar tidak mendapatkan dampak buruk serta dijamin untuk mendapatkan layanan rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial agar sembuh (read; pasal 4) 

Kewenanangan merehabilitasi telah diberikan kepada penegak hukum mulai dari penyidik, penuntut umum sampai hakim pada semua tingkat pemeriksaan (pasal 13 PP 25/2011) artinya paksaan rehabilitasi sudah dapat dilakukan sejak penyidikan, penuntutan dan pengadilan. Khusus kepada hakim diberikan tambahan kewenangan ektra penting yang selama ini tidak pernah dipakai sebagai sarana melindungi dan menyelamatkan penyalah guna yaitu hakim wajib (pasal 127/2) memperhatikan dan menggunakan pasal 103 apabila amar putusannya merujuk pasal 127 ayat 1 yaitu menyatakan terbukti secara sah dan menyakinkan terdakwa sebagai penyalah guna untuk diri sendiri maka demi hukum penjatuhan sangsinya berupa rehabilitasi.

Paksaan rehabilitasi bagi penyalah guna tidak hanya oleh penegak hukum khususnya hakim, keluarga pun diwajibkan merehabilitasi keluarganya yang menjadi penyalah guna yang sakitnya sudah kronis ketergantungan narkotika melalui wajib lapor pecandu (pasal 55) kalau tidak orang tua diancam dengan pidana kurungan maksimum 6 bulan.
Pada sisi ini penyalah guna harus dipaksa direhabilitasi oleh keluarga, karena itu kejahatan penyalah guna narkotika tergolong  domestic crime.

Karena penyalahguna narkotika tergolong domestic crime maka premium remedium nya lebih pada kewajiban keluarga untuk merehabilitasi dari pada rehabilitasi melalui sangsi rehabilitasi namun implementasinya justru hakim menggunakan ultimum remedium dengan sangsi penjara 
Hal ini dapat ditebak karena hakim terbelenggu oleh paradigma sistem peradilan pidana mengesampingkan paradigma yang dibangun UU narkotika yaitu sistem peradilan rehabilitasi.

Akhirnya, untuk apa ada ketentuan tentang tujuan dibuatnya UU no 35 /2009 dalam pasal 4d yang menyatakan secara jelas bahwa "menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial bagi penyalah guna dan pecandu"  kalau para hakim prakteknya menjatuhkan sangsi penjara.
Menyelesaikan masalah narkotika tidak bisa dengan penegakan hukum dengan memenjarakan semua yang terlibat tapi sesuai dengan amanat UU yaitu harus seimbang antara penegakan hukum terhadap pengedar bersifat represif dan penegakan hukum terhadap penyalah guna bersifat rehabilitatif 

Pasti ada malpraktek yang menyimpang dari ketentuan perundang undangan yang berlaku, atau interprestasi yang salah kalau penyalah guna untuk diri sendiri akhirnya ditahan dan dipenjara. Lalu apa kita menyalahkan UUnya dengan alasan; UUnya ambigu kek, atau UUnya ngak bener lah , padahal UUnya sangat seksi dan up to date, sudah mengacu pada ketentuan konvensi tunggal narkotika beserta protokol yang mengubahnya. Karena alasan yang tidak jelas lalu UU narkotika yang up to date ini minta diganti, sing bener ae. 
Ingat kita sudah berpengalaman 3 kali ganti UU ketiganya belum pernah hakim mengetrapkan vonis hukuman rehabilitasi padahal ketiga UU menyatakan dengan jelas pecandu wajib direhabilitasi. 
Waduh salah kaprah kok lama banget, kapan benernya.

#StopNarkoba
#StopVonisPenjara

Sumber: surabaya.tribunnews.com/2018/08/28/hakim-salah-kaprah-kok-lama-banget-benernya
Share:

Friday, August 31, 2018

Kirim tulisanmu!


ARTIKEL ANTI NARKOBA

Portal Anti Narkoba mengundang akademisi, praktisi, relawan anti narkoba dan semua pihak yang tertarik dalam penulisan gerakan Anti Narkoba untuk berkontribusi dengan menulis di Blog Anti Narkoba.

Kirim tulisanmu di antinarkobacom.artikel@blogger.com

Salam Hormat,
Tyo (Admin AntiNarkoba.com)
Share: