Thursday, December 6, 2018

Madat Itu Tolol! (Sebuah Konsep Kampanye Anti Narkoba)



Dari data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2017, 40 hingga 50 orang meninggal setiap hari di Indonesia akibat narkoba. Jumlah pencandu narkoba sudah hampir 6 juta orang. Peredaran narkoba meningkat 13,6 persen tiap tahun. Sedangkan potensi kerugian ekonomi akibat narkoba diperkirakan mencapai Rp74,4 triliun setahun.
Angka-angka yang mengerikan. Banyak pihak menyebut Indonesia sudah gawat darurat narkoba.
Tahun 2016 BNN bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan (Puslitkes) Universitas Indonesia mengadakan penelitian yang hasilnya, menurut Deputi Bidang Pencegahan BNN Ali Djohardi Wirogioto, cukup mencengangkan: 80 persen masyarakat Indonesia mengetahui jenis-jenis dan bahaya narkoba. Namun, anehnya, tingkat penyalahgunaan narkoba di Indonesia malah naik dari tahun ke tahun.

Hasil penelitian itu menunjukkan tidak adanya korelasi positif antara level pengetahuan masyarakat akan bahaya narkoba dengan berkurangnya konsumsi narkoba. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kampanye anti narkoba yang selama ini hanya berfokus pada bahaya narkoba TIDAK EFEKTIF.
Para ahli behavioural science mengatakan peer pressure besar sekali pengaruhnya dalam kehidupan anak muda. Apa-apa yang mereka lakukan (pakai, tonton, dengar, baca, konsumsi) sangat ditentukan konsensus peer pressure. Namun, sepertinya bukan anak muda saja. Orang dewasa diam-diam perilakunya juga sangat didominasi persepsi sekelilingnya. Sebagai makhluk sosial, tindak-tanduk manusia banyak dipicu tekanan dari luar. Tindakan yang benar-benar murni, tulus, ikhlas, karena "tekanan dari dalam", barangkali cuma berak. Hahaha.

Ada dua jenis peer pressure: negative peer pressure (semua yang buruk) dan positive peer pressure (semua yang baik). Negative peer pressure disebut-sebut sebagai salah satu penyebab utama yang menjerumuskan remaja ke fase awal konsumsi narkoba: fase coba-coba.

Tapi kenapa analisisnya berhenti sampai di situ saja? Harusnya digali lebih dalam lagi: Mengapa ada peer pressure untuk "mengonsumsi narkoba"? Mengapa tidak ada peer pressure untuk "mengonsumsi sayuran"? Atau kalau mau yang menyeleneh juga, mengapa tidak ada peer pressure untuk "makan kotoran ayam"? (Walaupun juga tidak sehat, minimal tidak separah kokain dan tidak menimbulkan ketagihan.)

Alasannya: FAKTOR GAYA. Menjadi keren adalah segala-galanya bagi remaja. (Dan, sekali lagi, juga bagi orang dewasa.) Kebutuhan untuk diterima, diakui, dihormati merupakan bagian dari Esteem dalam Piramida Kebutuhan Maslow. Semakin keren maka semakin diterima, diakui, dihormati. Apabila kegiatan mengonsumsi narkoba sudah pula dikategorikan hebat, tak heran timbul peer pressure untuk melakukannya.

Titik lemah itulah seharusnya yang kita serang. Kita buktikan bahwa madat itu tidak hebat. Tidak keren.
Kita telah lalai dalam menilai narkoba. Masih banyak orang tua terlibat dalam konspirasi-tak-sadar yang melanggengkan anggapan "madat itu hebat". Skenario berikut kerap kita jumpai. Seorang ayah yang (merasa) sedang menasihati anaknya berkata, "Jangan kayak mereka ya, Nak. Papa paling tahu deh. Sebab Papa dulu juga tukang mabok." Wajah si ayah merona bangga. "Bahkan pernah digotong pulang saking telernya." Si ayah menatap ke kejauhan, tersenyum tipis, lalu menghela napas takjub. "Tapi akhirnya Papa sadar, minuman keras itu tidak baik." Sang anak, yang jelas-jelas dapat menangkap pancaran ujub ayahnya, menarik kesimpulan sederhana bahwa "mabok, meski bahaya tapi keren." Atau malah, "makin bahaya, makin teler, makin keren." Padahal di zaman sekarang tersedia beraneka ragam drugs yang jauh lebih keras ketimbang minuman keras Papa di masa muda. Jangan salahkan anak Papa kini bangga maké, sebab Papa juga bangga dulu paké.

Mengapa kita bisa lalai dalam menilai narkoba? Mungkin karena banyak aktivitas lain yang keren tulen sama-sama menyimpan potensi bahaya sehingga menantang bahaya diasosiasikan dengan kehebatan. Misalnya, olah raga. Ayrton Senna dan Marco Simoncelli tewas di lintasan balap. José Antonio Delgado meninggal saat mendaki gunung Nanga Parbat. Atau dunia politik. John F. Kennedy mati ditembak. Bahkan dalam misi ilmu pengetahuan dan teknologi. Marie Curie wafat karena penyakit aplastic anemia akibat paparan radiasi bertahun-tahun. Pesawat ulang-alik Challenger meledak; seluruh krunya gugur. Padahal sebetulnya ada perbedaan yang sangat mendasar di situ: aktivitas-aktivitas tersebut bukan "asal menantang bahaya" semata.

Sesuatu yang hebat itu butuh keahlian tinggi untuk memproduksinya. Keahlian yang tidak dimiliki banyak orang. Outstanding, distinguished, jejak etimologinya terlihat bersumber dari ide "apart from the rest". Kalau semua orang bisa, itu namanya "biasa". TIDAK HEBAT.
Mengonsumsi narkoba tidak butuh keahlian. Kalau mau, siapa pun bisa melakukannya. Anak kecil pun bisa. Malah tidak sedikit kegiatan kanak-kanak yang lebih sukar, lebih butuh keterampilan, ketimbang mengonsumsi narkoba.
Mencuci piring tidak perlu skill tinggi. Tapi berfaedah. Mengetuk-ngetuk meja tidak perlu skill tinggi dan tidak berfaedah. Mengonsumsi narkoba selain tidak perlu skill tinggi juga bikin sakit dan bokek. Ia bukan sekadar tidak hebat, melainkan juga bodoh. Sudahlah sepele, merugikan lagi. MADAT ITU TOLOL. Goblok. Bego. Enteng. Remeh-temeh.

Demi memenangkan perang melawan budaya konsumsi narkoba yang begitu destruktif, tidaklah mengapa bila kita terpaksa bersikap kasar. Kita harus lecehkan kegiatan memakai narkoba hingga taraf hina dina agar para remaja malu mengonsumsi narkoba, semalu mengupil atau kentut di hadapan umum. Jika menggunakan narkoba sudah berbalik jadi sesuatu yang memalukan, maka "budaya anti narkoba" bakal jadi positive peer pressure. Remaja paling takut dianggap norak dan nggak gaya. Dan jangan lupa, para orang tua harus jujur mengakui bahwa "masa jaya" mereka dulu itu hanyalah kedunguan belaka. Tak boleh lagi ada kebanggaan terselubung.

Guna mengatasi timbulnya sangkalan munafik dari para pencandu dan calon pencandu bahwa yang mereka cari bukanlah gengsi, bahwa mereka madat hanya biar mati – kita siapkan pelemah argumen demikian. Kita tunjukkan bahwa itu tetap saja TOLOL. Sebab ia boros waktu dan uang. Tidak efisien. Tidak ekonomis. Kalau cuma kepingin mati, alangkah lebih cerdasnya jika naik saja ke puncak gedung tinggi, lalu loncat. Dalam hitungan detik, tercapai cita-cita. Gratis pula. (Percayalah, mereka tidak sungguh-sungguh ingin mati.)

Kalau dibuat iklan layanan masyarakatnya, kira-kira seperti di bawah inilah bentuknya.

Pariwara anti narkoba dibuka dengan narasi: "Siapa bilang narkoba itu keren?"

Kemudian kita sajikan fragmen-fragmen yang membandingkan aktivitas madat seorang pencandu dengan aktivitas anak berumur empat tahun.

Si Pencandu menghirup heroin. Si Kecil yang sedang pilek menghirup lelehan ingusnya. "Apa susahnya menghirup?"

Si Pencandu mengisap ganja. Si Kecil mengisap dan meniup mainan serupa sedotan beruas-ruas yang bisa memanjang dan memendek (saya nggak tau namanya). "Apa susahnya mengisap dan meniup?"

Si Pencandu menenggak minuman beralkohol, Si Kecil menenggak air putih. "Apa susahnya memasukkan cairan ke dalam mulut?"

Selepas rangkaian adegan itu, terdengar pernyataan: "Kalo mau, balita juga bisa maké. Semua yang gampang itu nggak keren!"

Lalu terlihat di halaman sebuah SD beberapa siswa laki-laki bermain kelereng pada jam istirahat, sementara tak jauh dari mereka, siswa-siswa perempuan bermain lompat tali. "Permainan anak SD saja lebih sulit ketimbang madat."

Klimaksnya, kita perlihatkan pemuda-pemuda kebanggaan kita yang sedang menerima trofi kejuaraan olah raga, medali emas olimpiade fisika, atau gitaris metal yang sedang memainkan solo yang cepat dan njelimet. Dsb.... Pokoknya, mereka yang memenuhi definisi hebat sesungguhnya. Narasi penutupnya: "Nah, yang begini-begini baru nggak gampang. Ini baru asli keren!"


Sumber:
https://www.kompasiana.com/tonisanu/5b31269dbde5755c063bc4b3/narkoba-itu-tolol-sebuah-konsep-kampanye-anti-narkoba
Share:

0 comments:

Post a Comment